Thursday, January 01, 2009
Sejak dari malam tadi lagi, SMS datang bertalu-talu, intinya mengucapkan Selamat Tahun Baru. Tahun Baru? Tiada yang indah bagi saya dan tidak terlalu banyak bezanya.
"Apakah ada bedanya..." Tanya Ebiet G Ade.
Di satu sudut, kaum proletar bergembira, gegak gempita, sorak sorai sambil berpura-pura lupa untuk berfikir tahun baru ini, APA yang akan dimakan.
Di satu tempat, kaum borjuis bergembira, gegak gempita, sorak sorai sambil berfikir tahun baru ini, SIAPA yang akan dimakan.
Apakah ada bezanya setelah piring dan gelas kosong, mercun dan trompet tahun baru tidak lagi menyalak membingit telinga? Tidur? Senyap sunyi?
"Apakah ada bedanya..." Ebiet G Ade diam sebentar sambil memetik gitarnya. "...ketika kita bertemu dengan saat kita berpisah?" katanya menyambung pertanyaan.
Entahlah kata saya. Mungkin tiada bezanya, seperti tahun-tahun sudah, kemenangan selalu berpihak kepada kaum borjuis.
Selamat Tahun Baru... hehehe...
Posted at 05:54 am by barambang
Permalink
Thursday, November 13, 2008

kura-kura tanpa tipu
juarai lomba lari
bagaimana bisa?
bisanya bagaimana?
Singa, monyet, ular, serigala pun harimau, murka
hanya satu yang terduduk-duduk biasa,
; babi
hukum rimba diguncang-guncang
satu-satu coba dalih kurang-kurang
bagaimana sekarang?
sekarang bagaimana?
berembung urun taji
dari awal sampai hasil dikaji
marmut memekik lengking
"kamu! itu makan taik?"
pelaku nyengir tak berdosa
biasa
; babi
harus apa?
apa harus?
semua bertanya-tanya
sang hakim, raja langit bijak laksana bertitah
'panggil kura-kura"
rusa kalah lomba, berlari terpincang-pincang
sebelum sampai maklumat tiba : kura-kura telah mati
sang juara
hukum rimba kembali tegak
semua bubar
"ayo kamu! kembali pulanglah!"
pelaku hanya menyeringai
ia berak dulu
; babi
ah...
Elbintang, Gorontalo
Posted at 08:57 pm by barambang
Permalink
Tuesday, November 11, 2008
LELAKI pengecup mawar itu membayangkan
bibir kekasihnya yang membisikkan sebuah rahasia
dan dia pun menjelma jadi kupu-kupu buta sehingga
ia hanya membayangkan gairah warna dari sejuk
embun yang membekas di lembar-lembar mahkota
yang gugur seperti kata yang gagal diucapkannya
dan ada yang masih ingin disentuhkannya pada kelopak
yang tersisa tetapi angin telah menunggunya di luar
taman dan dia pun ikhlas menjauh meski ingin sekali
ia memberanikan diri mengucapkan sebuah janji yang
sudah lama ia persiapkan.
Hasan Aspahani
Posted at 09:36 pm by barambang
Permalink
Sunday, May 25, 2008
Posted at 04:40 am by barambang
Permalink